RUMAH YANG DICICIL DARI BATA BEDA WARNA

Ada rumah di ujung jalan Darangdan yang kalau dilihat orang, pasti langsung tahu pemiliknya sedang berjuang.

Batanya tidak seragam.

Bagian bawah bata merah bekas, yang harus dicuci satu-satu. Bagian tengah hebel putih. Bagian atas bata merah baru. Itulah rumahku. Rumah yang aku bangun mandiri, dengan cara nyicil. 

Januari aku beli bata 100 biji. Februari aku beli hebel 20 biji. Maret aku tidak beli apa-apa, karena uangnya hanya cukup untuk satu sak semen. Tiga tahun aku tidak beli baju baru. Semua upah lembur jadi dinding.

Rumahku bukan penerima bantuan Rutilahu.

Yang menerima Rutilahu adalah sepupuku, Lilis. Rumahnya memang sudah miring, kalau hujan embernya lebih banyak dari piringnya. Aku ikut senang dia dapat bantuan itu.

Tapi dari dua rumah yang sama-sama sedang dibangun itu, lahir satu masalah yang hampir meruntuhkan semuanya.

*AKAR MASALAH: TELEPON DARI ARAB*

Lilis sampai hari ini tidak tahu apa-apa soal uang 10 juta itu. Dia benar-benar polos.

Yang tahu pertama kali adalah Ibu dan Bibi yang di Arab. Mereka membahasnya lewat telepon.

"Bibi di Arab bilang, Kak, titip saja ke Nara yang lagi mau kredit itu 10 juta buat Lilis, nanti saya yang bayar cicilannya dari sini."

Dan Ibu, dengan anxiety-nya yang tinggi, langsung mengiyakan. Bagi Ibu, kalau bisa membantu semua orang, Ibu akan merasa dicintai, merasa dianggap baik. Itu cara Ibu menenangkan cemasnya.

Padahal, yang orang tidak tahu, Ibu itu sudah lama membantu Lilis. Dari mana? Dari uang bekal dapur yang dikasih Ayah.

Setiap bulan Ayah memberi Ibu uang dapur. Seharusnya untuk belanja kita. Tapi karena tidak tega melihat Lilis susah, sering kali beras dibagi, uang lauk dibagi, diam-diam ke Lilis. Itu kebaikan Ibu yang tulus, tapi caranya salah sasaran.

Ayah tahu semua itu.

Dan di sinilah peran Ayah yang paling berat. Ayah sudah 30 tahun hafal drama Ibu. Ayah serba salah. Kalau Ayah marah karena uang dapur dibagi, Ibu akan menangis dan drama bisa seminggu tidak selesai. Kalau Ayah diam, dapur kita yang tipis.

Maka Ayah memilih jalan ketiga: trik balasan yang halus. Ayah pura-pura lupa kalau sudah kasih uang dapur full. Ayah pura-pura tidak dengar saat Ibu teleponan lama dengan Bibi di Arab. Ayah pura-pura mengantuk saat Ibu mulai membahas titipan. Di depan Ibu, Ayah diam. Di belakang, Ayah membisikiku, "Bapak tahu trik Ibu itu, Nak. Uang dapur Bapak saja sering ke Lilis. Bapak serba salah."

Aku sendiri punya peran. Aku tetap bantu Ibu 300 ribu untuk sembako setiap tanggal 5. Itu baktiku. Dan suamiku, dia adalah rem. Semua berkas kredit, KTP, KK, dia yang pegang. Agar aku tidak goyah karena tidak tega.

Puncaknya, suamiku sedang mengurus kredit mobil leasing 50 juta. Bukan kredit cash. Uangnya langsung ditransfer leasing ke dealer mobil. Bentuknya barang, bukan uang.

Ibu datang membawa hasil teleponnya dengan Bibi di Arab.

"Nara, kamu kan mau cair 50 juta. Titip ya 10 juta buat Lilis, biar Rutilahu-nya sekalian bagus. Tenang, adik Ibu di Arab yang bayar."

Kalimat itu terdengar ringan, tapi di kepalaku beratnya seperti satu truk bata.

Aku tahu persis resikonya. Yang tanda tangan di bank adalah namaku. Kalau bulan depan Bibi di Arab telat kirim karena gajinya telat, bank tidak akan telepon ke Arab. Bank akan telepon aku. Debt collector akan datang ke rumah bata beda warna ini. BI Checking-ku yang akan hitam. Rumah mandiriku yang jadi taruhannya.

*KLIMAKS: MELURUSKAN SEBELUM SALAH PAHAM*

Aku tahu, kalau aku langsung melawan Ibu, dramanya akan panjang. Jadi aku harus memutusnya di akar: di Lilis.

Karena Lilis belum tahu apa-apa, aku harus jadi orang pertama yang memberitahunya, dengan versi yang jujur.

Sore itu aku datangi Lilis yang sedang menata Rutilahu-nya.

"Lis, sini duduk sebentar di bata Kakak."

"Lis, Kakak mau jujur. Kakak dengar Ibu sama Bibi di Arab lagi ngobrol di telepon, mau titip 10 juta dari kredit Kakak buat rumah kamu. Kamu sudah tahu belum?"

Lilis kaget, "Hah? Belum sama sekali Kak. Aku tidak tahu."

"Bagus kalau belum tahu, Lis. Dengarkan Kakak ya."

"Bukan Kakak tidak mau bantu kamu. Kakak tahu Ibu selama ini sudah sering bantu kamu dari uang bekal dapur Ayah. Ibu itu sayang sama kamu, Kakak hargai itu."

"Tapi untuk yang 10 juta ini, jangan lewat kredit Kakak ya Lis. Kredit Kakak itu kredit mobil leasing, Lis. Uangnya langsung ke dealer, bukan cash ke tangan Kakak. Jadi tidak ada uang 10 juta yang bisa Kakak titipkan. Kalau memang Bibi di Arab mau bantu kamu, biar transfer langsung saja ke Ibu, jangan lewat nama Kakak. Kalau lewat nama Kakak, yang ditagih bank nanti Kakak, Lis."

Lilis diam lama, lalu mengangguk. Karena dia belum pernah dijanjikan, dia tidak merasa kehilangan. Dia justru lega.

"Oh gitu ya Kak. Aku paham Kak. Aku tidak mau rumahku jadi karena Kakak susah. Rutilahu ini saja sudah cukup buat aku, Kak. Makasih ya Kak sudah jujur."

Satu simpul lepas.

*PENYELESAIAN: BICARA LANGSUNG DAN TAMENG LEASING*

Malamnya, aku bicara langsung ke Ibu. Tidak lewat WA, tapi tatap muka. Karena kalau lewat WA, bisa di-screenshot dan dipelintir.

Aku tunggu Ayah ada di rumah. Karena Ayah adalah backing-ku.

Aku duduk sejajar, pegang tangan Ibu, suara pelan.

"Bu, Nara duduk sini ya, mau ngomong sebentar."

"Bu, soal telepon Ibu sama Bibi di Arab kemarin, soal titip 10 juta buat Lilis. Nara sudah ngobrol sama Ayah dan suami."

"Bu, maaf ya Bu, Nara tidak bisa titip Bu."

"Bukan Nara tidak mau bantu Lilis, Nara sayang Lilis. Nara tahu Ibu selama ini sudah sering bantu Lilis dari uang dapur Ayah, itu baik Bu."

"Tapi kredit Nara itu kredit mobil leasing Bu. Uangnya langsung dari leasing ke dealer mobil Bu. Bentuknya mobil, bukan uang cash. Jadi tidak ada uang cash 10 juta di tangan Nara Bu, yang bisa dititip."

"Kalau Bibi di Arab memang mau bantu Lilis, biar transfer langsung saja ke Ibu ya Bu, jangan lewat kredit Nara. Lebih enak dan lebih jelas Bu."

"Buat Ibu, tiap tanggal 5 Nara tetap bantu 300 ribu buat sembako dapur ya Bu. Itu Nara tetap jalanin."

Itulah tameng leasing.

Kalimat itu ampuh. Kalau kreditnya cash, Ibu masih bisa bilang, "Ya sudah cairin dulu, titip dulu, nanti diganti." Tapi kalau kreditnya leasing mobil, tidak ada cash-nya. Uang langsung ke dealer. Tidak ada yang bisa dititip. Drama tidak punya tempat untuk menempel.

Ayah dari belakang mengangguk kecil. Itu adalah tanda, backing Ayah berhasil. Trik halus Ayah menang tanpa harus berteriak.

Ibu terdiam. Bukan marah. Tapi mengerti. Untuk pertama kalinya, Ibu belajar bahwa menjadi orang baik itu harus dengan cara yang jujur, bukan dengan cara menitip beban ke anak sendiri.

*EPILOG*

Hari ini, rumahku masih setengah jadi. Batanya masih beda warna. Tapi di atasnya tidak ada beban titipan 10 juta.

Rumah Lilis, Rutilahu-nya sudah berdiri. Tidak miring lagi. Kalau hujan, dia tidak perlu menyiapkan ember.

Dan uang bekal dapur Ayah? Sekarang alurnya lebih jujur. Ayah tetap memberi ke Ibu, Ibu tetap boleh membantu Lilis seikhlasnya dari uang itu, tapi tidak lagi membawa nama kreditku.

Dan aku, setiap tanggal 5, masih transfer 300 ribu untuk sembako Ibu.

Karena di Darangdan, aku belajar satu hal: Ada kebaikan yang memang harus dibangun sendiri, seperti rumah bata beda warna. Tidak bisa dititip, tidak bisa diwakilkan.

*- SELESAI -*