Pemberdayaanku

Bagi saya, pemberdayaan masyarakat bukan sekadar istilah atau program kerja belaka, melainkan sebuah proses panjang dalam menggerakkan potensi lokal agar mampu berdampak nyata bagi kesejahteraan warga. Perjalanan ini dibangun atas landasan keterlibatan aktif, transparansi, serta inovasi yang terus bertransformasi seiring berjalannya waktu.

Langkah awal dalam pengabdian ini dimulai dari lingkup pemerintahan desa. Melalui peran sebagai perangkat hingga Sekretaris Desa Linggamukti, saya memposisikan diri sebagai penggerak dan jembatan komunikasi antara masyarakat dengan lembaga desa. Pengalaman tata kelola administrasi ini menjadi fondasi penting untuk memahami tata cara merancang pembangunan desa yang berpihak pada kepentingan dan kemandirian warga.

Kegiatan Pemberdayaan Desa

Peningkatan Kapasitas Penggerak Desa

Dalam perjalanannya, fokus pengabdian bergeser pada penguatan sektor ekonomi, inovasi, dan pemberdayaan sektor riil masyarakat. Beberapa fokus utama kegiatan pemberdayaan yang telah dijalankan meliputi:

  • Kemandirian Ekonomi Lokal (BUMDes): Mengelola BUMDes Linggamukti—baik sebagai Sekretaris maupun Direktur—untuk memajukan unit usaha desa, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan ekonomi masyarakat.
  • Penguatan Tata Kelola & Inovasi Desa: Mengawal transparansi dan akuntabilitas anggaran sewaktu bertugas sebagai Bendahara Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Darangdan, guna memastikan Program Inovasi Desa (PID) berjalan efektif dan tepat sasaran.
  • Pemberdayaan Sektor Pertanian: Mengorganisasi Kelompok Tani "MITRA SAJATI" untuk mendorong produktivitas, menerapkan inovasi pertanian, dan memberikan nilai tambah bagi para petani lokal.
  • Pengembangan Kepemudaan & Budaya: Menggerakkan wadah Karang Taruna serta sanggar seni budaya sebagai sarana pembinaan generasi muda sekaligus melestarikan tradisi Sunda.
Pengembangan Pertanian, BUMDes, MBG & KDMP

Peningkatan Kapasitas Petani

Bagi saya, akar dari pemberdayaan adalah partisipasi dan integrasi. Dari wadah kepemudaan, kelompok tani, pengelolaan BUMDes, MBG dan KDMP, hingga pelestarian seni budaya, semua bermuara pada satu cita-cita: menjadikan desa bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang mandiri, berdaya, dan siap menyongsong perubahan zaman.